Keris – Senjata yang indah tanpa mistik
Ken Arok memesan untuk dibuatkan keris kepada empu Gandring, yang digunakan untuk membunuh Tunggul Ametung, Kisah persaingan antara Tunggul Ametung dan Ken Arok ternyata memang bukan murni politis, melainkan juga nafsu asmara yang bergejolak. Sumbernya terpusat pada kecantikan luar biasa Ken Dedes. Karena pesanan keris Ken Arok belum selesai, masih menyisakan sarung keris yang tengah dibuat, sedangkan asmara kepada ken dedes sudah tak terbendung, akhirnya Ken Arok kesal dan membunuh empu Gandring sang pembuat keris itu sendiri.
Cerita diatas merupkan petikan sejarah dimana keris ikut mewarnai terbentuknya kerajaan singosari yang melibatkan persaingan Ken Arok denganTunggul Ametung.
Keris, senjata khas dari tanah jawa yang bagi sebagian banyak orang, keris bukan merupakan senjata biasa melainkan senjata yang memiliki kedigdayaan tertentu, namun singkirkan dahulu skeptis – skeptis mistik terhadap keris, pandangan – pandangan skeptis tersebut malah menjatuhkan nilai seni keris itu sendiri.
Kerumitan membuat keris merupakan bagian dari seni membuat keris itu sendiri, keris dikerjakan secara manual, di tempa di panaskan dan di tempa lagi begitu seterusnya. Bagi empu (orang yang membuat keris), membuat keris minimal memperhatikan 4 syarat, yakni benar secara pamor (corak hiasan), wojo (baja), wesi (besi), dan wangun (garap), jika salah satu syarat dilanggar keris tersebut berkualitas kurang baik.
Saking rumitnya pembuatan keris, sang empu harus sangat serius dan teliti untuk menghasilkan keris yang terbaik, karena keseriusan tersebut si empu pun harus berpuasa saat akan menempa keris, hal tersebut dimaksudkan menjaga diri dari perbuatan – perbuatan yang tidak baik yang memungkinkan hasil keris yang kurang baik pula, mungkin begitulah filosopi orang jawa.
Pandangan – pandangan skeptis mistik terhadap keris akan menjatuhkan seni dalam pembuatan keris itu sendiri, keris yang begitu indah dan sangat rumit bagi pengemar mistik tidak akan begrguna jika tidak ada sisi gaibnya, patut disayangkan. Para penggemar gaib hanya melihat sisi gaib walaupun keris yang tersebut hanya keris-kerisa-an.
Keris pada jaman Mataran dan Majapahit dan sebelumnya, dibuat dengan tingkat kerumitan yang sangat – sangat – sangat sulit, bahkan para Ilmuwan masih belum menemukan logika yang detil bagaimana manusia Jawa zaman dulu mampu mengolah sebuah batu meteorit menjadi menjadi campuran sebilah keris. Didalam batu meteorit mengandung titanium, cobalt, emas, perak, timah putih, nikel, tembaga, plutonium dll, batu meteorit itu sendiri adalah meteor dari luar angkasa yang berhasil menembus atmosfir bumi dan jatuh di permukaan bumi.
Unsur logam titanium sebagai salah satu bahan keris, baru ditemukan sebagai unsur logam pada sekitar tahun 1940, dan merupakan logam yang diolah dengan tekhnik modern tertentu, kekerasannya melebihi baja namun jauh lebih ringan dari besi, banyak digunakan sebagai alat transportasi modern (pesawat terbang, pesawat luar angkasa) ataupun roket, tapi pada saat itu teknologi pengolahan titanium belum hadir di dunia.
keris zaman Mataram atau Majapahit selalu menggunakan pamor dari batu meteorit. Ini bahan paling baik untuk pamor karena batu meteorit mengandung unsur titanium paling tinggi. Keris yang mengandung unsur titanium itu akan sangat keras, kuat, tapi bobotnya ringan. karena titanium sangat keras, kesulitannya ada di titik leburnya, titik lebur besi atau baja, mencapai 10.000 derajat celsius. Cukup dengan panas setinggi itu bila hendak membuat keris dari pamor nikel ataupun besi dan baja.
Untuk membuat keris berbahan pamor dari batu meteorit, suhu sepanas itu belum cukup. Dibutuhkan paling tidak sekitar 60.000 derajat celsius agar batu meteorit bisa ditempa. Tapi para empu zaman Mataram dan Majapahit bisa membuat pamor dari batu meteorit hanya dengan tungku arang, bisa di bayangkan, orang zaman dulu, dengan teknologi terbatas, sudah bisa membuat tungku sepanas itu, teknik skill dan aspek skill inilah yang sangat menentukan kualitas keris.
Kualitas keris dan ukiran keris yang sangat indah membuat kita kagum, kekaguman ditambah lagi pada sebagian keris kuno ternyata mampu berdiri pada ujung atas ataupun ujung bawah ataupun mampu berdiri pada kedua ujungnya, luar biasa! , pada sebagian pecinta mistik, keris tersbut dikaitkan dengan adanya sisi gaib dan “isi” dari keris tersebut. padahal anggapan itu salah besar, keris mampu berdiri karena tingkat keseimbangan keris, ketelitian pada saat pembuatan dan campuran material yang sempurna.
UNESCO, dalam sidangnya di Paris, 25 November 2005, menyatakan bahwa keris Indonesia diakui dunia sebagai salah satu warisan budaya manusia yang harus dilestarikan (Oral and Intangible Heritage of Humanity).
No Results Found
Powered by WordPress SEO Tools




