perang media tidak online.
banyak penulis online membahas tentang bagaimana memenangkan pasar online mereka, kali ini saya mencoba menulis tentang media tradisional (koran). perbedaan utamanya adalah pada media tradisional kita harus membeli dahulu, atau pinjam ( pada penjual atau pembeli lain ). media online sebagian besar gratis, kecuali kita ingin langganan (kalo ada opsi berlangganan).
1. KOMPAS : ini dia raja media masa di Indonesia,
a. kunci utama keberhasilan kompas adalah SDM, training yang seabreg sampe pajak penghasilan karyawan ditanggung perusahaan. buat kamu yang dibiasakan membaca kompas dari kecil, agak janggal ketika membaca media selain kompas : rasanya ada yang kurang gitu.
b. kemitraan distribusi : ada kesepakatan tidak tertulis, para agen kompas dilarang untuk mendistribusikan produk2 tertentu.
2. INDOPOS : ini produk Jawa Pos, untuk jakarta dan sekitarnya.
a. gak bisa di distribusikan melalui agen2 kompas, indopos membangun jaringan agen sendiri, keluarga karyawan dilibatkan untuk membangun kanal distribusi
b. jam setengah 6 pagi sudah ada di tanggan konsumen. ini dia terobosan cemerlang dari indopos, menyasar pasar dipinggiran jakarta : bekasi, depok, tangerang indopos harus sampe ke tangan konsumen sebelum konsumen berangkat ke kantor.
3. Koran SINDO : konglomerasi anak mantan penguasa merambah media.
a. awal peredarannya dibagikan gratis kepada pengecer.
b. SDMnya? bedol desa (pindahan dari koran tempo)
4. Lampu Merah : sekarang namanya Lampu Hijau.
a. koran fenomenal, 3 bulan beroperasi kabarnya udah balik modal. isi berita kriminal, sesuai dengan permintaan pasar ibukota.
5. Warta Kota : awalnya jadi koran khas ibukota, isinya banyak tentang sejarah ibukota.
a. penjualan 4 tahun pertama, sangat lambat. kalau tahun ke 5 masih gagal di penjualan, bakal ditutup sama kompas induknya.
b. merespon masukan dari distributor, kalo mau laku ya berita kriminal (kecuali memang cuma untuk kalangan sendiri/khusus) dan memang isinya berubah menjadi lebih ringan, dan berita kriminal menjadi headline.
6. Koran Tempo : majalah tempo pernah di bredel rezim orba, terbit online, dimasa reformasi kembali terbit dan ekspansi ke koran.
a. awalnya rekrut orang pengembangan dari media indonesia yang dahulu berhasil meloby “kelompok agen besar”.
b. ego, dan ambisius : koran tempo gak butuh agen. ekspansi merekrut pelanggan sebanyak2nya. satu tenaga pemasar minimal mendapatkan 20 pelangan baru perbulan baru bisa mendapat gaji.
strategi sama yang banyak dilakukan :
beda market, beda harga. baik ditingkat konsumen, maupun ditingkat distributor. koran dijual lebih murah di biskota, stasiun, dan kampus.
ada yang dilakukan berkala, ada juga yang terus menerus tampa batasan waktu.
7. koran JAKARTA : jangan kaget kalo sore hari, masih banyak yang memasarkan koran ini.
a. ini koran yang sangat memanjakan penjual koran. setiap pengecer mendapatkan uang makan. dan ada insentip bagi setiap koran yang berhasil dijual.
b. setiap pengecer mengambil minimal 20 exemplar, bahkan ada yang mengambil 200 exemplar. setiap pengecer didata (ada foto copy KTP, dan tercatat wilayah penjualannya). cara dapetin datanya? bagi2 paket lebaran, bagi yang tidak terdata : tidak dapet paket lebaran. (beda dengan koran lain yang bagi2 motor, bikin acara bareng artis, ada konser dibayarin, sampe jalan2 ke singapura : tapi cuma untuk langganan atau agen saja, melupakan pengecer dijalan)
beragam cara, dilakukan media tradisional untuk dapet market pembaca, penting di ingat : pembaca harus keluar biaya untuk membelinya, kalo gak laku, jadi pembungkus makanan dan sayuran yang lebih ramah lingkungan daripada plastik.
ayo media online : apa yang udah dilakukan? alexa rank, google rank, rss, tukeran link, itu sajakah?
kompas udah ekspansi kompas online : dari dekstop, ke wap, BB, iPad, Samsung Galaxy tab. gak kapok tv7 yang akhirnya dilepas ke TransTV jadi trans7, ada kompas.tv (dibaca : kompas dot tv).
keterangan foto : Andri salah satu pengecer warta kota.
Powered by WordPress SEO Tools















